Sejarah - Kolonialisme dan Imperialisme



A.Kolonialisme dan imperialisme barat diberbagai daerah

Kolonialisme adalah penguasaan oleh suatu Negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas Negara itu. Imperialisme adalah system politik yang bertujuan menjajah Negara lain untuk mendapat kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar.

Kolonialisme dan imperialisme ditumbuh kembangkan bangsa-bangsa Eropa diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak terjadinya Perang Salib, jatuhnya Konstantinopel ke tangan bangsa Turki Usmani, penutupan Lisabon oleh raja Spanyol, timbulnya Perang Koalisi di Eropa, dan dampak revolusi industry di Inggris, Negara-negara di Eropa pergi keluar negaranya. Perjalanan mereka ke Negara lain memiliki tujuan utama mendominasi dan mengeksploitasi sumber-sumber kekayaan alam dan manusianya.Negara-negara Eropa yang memiliki andil dalam membentuk dan mengembangkan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia, yaitu Portugis, Belanda, Prancis, dan Inggris.

1.) Kolonialisme dan Imperialisme Portugis di Indonesia.

Portugis merupakan Negara Eropa pertama yang berusaha mencari jalan laut ke dunia timur. Barholomeus Diaz berhasil mecapai Tanjung Harapan pada tahun 1486 dan Vasco Da Gama menginjakan kaki di Calicut tahun 1498. Tiga belas tahun kemudian, Alfonso d’ Albuquerque dapat menguasaipelabuhan Malaka. Pelabuhan Malaka merpakan langkah strategis Portugis dalam upaya menguasai wilayah perdagangan dan pelayaran dan Asia Tenggara. Ketika Portugis menduduki Malaka, kegiatan para pedagang muslim beralih ke Aceh. Keadaan tersebut sangat merugikan Portugis. Karena secara ekonomis wilayah Aceh menjadi lebih pesat perkembangan ekonominya daripada Malaka. Portugis kemudian berusaha membuat kekacauan di Aceh tetapi usaha tersebut berhasil digagalkan kesultanan Aceh.

Salah seorang yang dengan gigh menumpas kekacauan yang dilakukan Portugis adalah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528). Setelah Sultan Ali Mughayat Syah wafat kekuasaan Aceh dipegang Sultan Alaudin Riyat Syah (1537-1568), setelah itu Aceh berhasil mengusir Portugis yang bersekutu dengan Johor. Ketika Kesultanan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka. Tetapi karena perlengkapan senjata yang dimiliki Portugis lebih lengkap, penyerangan tersebut tidak membuahkan keberhasilan. Setelah menaklukkan Malaka, Portugis melanjutkan petualanganya ke Maluku dibawah pimpinan Antonio d’Abreu. Pada tahun 1512 Portugis mulai memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Dalam upaya mencapai tujuanya. Portugis memanfaatkan persaingan yang terjadi di Maluku. Pada saat itu Ternate tengah bersaing dengan Tidore yang bersekutu dengan Spanyol. Portugis segera menggunakan kesempatan tersebut dengan cara membantu Ternate. Kehadiran Portugis di Ternate mendapat simpati dari rakyat. Terlebih lagi rakyat Ternate mengira bahwa Portugis merupakan bangsa pedagang yang akan berperan menaikkan harga rempah-rempah. Oleh karena itu, Portugis diizikan mendirikan benteng di Ternate. Pada tempat lain di Maluku, Portugis pun membantu Hitu yang sedang bersaing dengan Seram.

Bangsa Portugis ternyata tidak sekedar mendirikan benteng, merekapun berhasil mengajukan keinginan memonopoli perdagangan rempah-rempah yang dituangkan dalam suatu perjanjian. Sejak adanya perjanjian tersebut, rakyat Ternate merasa dirugikan karena harus menjual rempah-rempah dengan harga yang sangat rendah kepada Portugis. Bangsa Portugis yang baru dikenal sebagai sahabat kemudian berubah menjadi pemeras. Oleh karena itu, rakyat Ternate serentak menyatakan permusuhanya terhadap bangsa Portugis. Pada tahun 1533, rakyat Ternate membakar benteng milik Portugis dibawah pimpinan Dalajo. Portugis segera mengirim bala bantuan dari Maluku kembali berjuang mempertahankan wilayahnya. Pada akhir peperangan, Antonio Galvo berhasil memaksakan perdamaian dengan rakyat Maluku sehingga Portugis masih dapat mempertahankan kekuasaan diwilayah ini.

Untuk beberapa saat, Portugis masih dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Hal ini diperkuat dengan perjanjian yang dibuat tahun 1570 antara Gubernur Lopez de Mesquita dan raja Ternate Sultan Hairun. Namun, tidak berapa lama setelah perjanjian tersebut, Sultan Hairun dibunuh oleh Lopez de Mesquita. Kejadian ini menyulut kemarahan Sultan Baabullah, putra Sultan Hairun. Peperangan rakyat Ternate melawan Portugis segera berkobar. Selama hamper 7 tahun, satu demi satu benteng-benteng Portugis dapat direbut Ternate. Pada tahun 1577, rakyat Ternate dapat mengusir Portugis dari wilayahnya.

2.) Kolonialisme dan Imperialisme Belanda di Indonesia.

Benih kekuasaan colonial dan imperialisme Belanda di Indonesia mulai muncul berawal dari ekspedisi empat kapal dagang dibawah pimpinan Cornelis de Houtman. Mereka mendarat di Banten pada tahun 1596. Ekspedisi pertama Belanda ini ternyata tidak membuahkan hasil karena penduduk pesisir Banten mengusirnya. Meskipun gagal, mereka telah membuka jalan bagi ekspedisi berikutnya. Ekspedisi kedua Belanda dipimpin Jacob van Neck. Pada tahun 1598 rombongan ini mendarat pula di Banten. Dengan berbekal pengalaman pahit dari ekspedisi Cornelis de Houtman, mereka kemudia berperilaki sopan dan hormat kepada penduduk setempat. Tidak mengherankan apabila kedatangan ekspedisi ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat Banten. Apalagi saat itu masyarakat Banten sedang bermusuhan dengan Portugis. Situasi ini menjadi peluang bagi Belanda untuk membina kerja sama dibidang perdagangan.

Sesudah mendapat keuntungan yang banyak, rombongan Belanda kembali ke negerinya dengan muatan kapal penuh rempah-rempah. Keberhasilan ekspedisi Belanda kedua ini telah mendorong para pedagang Belanda untuk dating ke Indonesia. Sejak saat itu, berbondong bondonglah kapal Belanda dating ke wilayah-wilayah di Indonesia. Akan tetapi, diantara mereka belum terdapat satu ikatan yang dapat mempersatukan dan memperkuat kedudukanya di wilayah Indonesia. Atas dasar pertimbangan itu, Johan van Oldenbarneveldt kemudian mengusulkan agar masyarakat Belanda membuat sebuah kongsi dagang seperti yang dilakukan Inggris dan Prancis.

Pada 20 Maret 1602 Belanda mendirikan kongsi dagang yang bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atau Persekutuan Perusahaan Hindia Timur. Tujuan didirikanya VOC, yaitu sebagai berikut :

Menghilangkan persaingan yang akan merugikan para pedagang Belanda.
Menyatukan tenaga untuk menghadapi saingan dari bangsa Portugis dan pedagang pedagang lainya di Indonesia.
Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.

VOC merupakan perhimpunan dagang dikalangan swata Belanda. Kongsi dagang ini merasa berkewajiban membantu pemerintah Belanda dalam mendapatkan dana. Sebaliknya, pemerintah Belanda memandang perlu untuk memberikan sejumlah kewenangan kepada VOC. Oleh karena itu, pemerintah Belanda segera menyampaikan usul kepadfa parlemen agar VOC diberi hak-hak istimewa. Parlemen Belanda mengabulkan permintaan tersebut sehingga keluarlah hak octrooi (hak paten). Hak-hak VOC yang diberikan parlemen Belanda adalah sebagai berikut :

Hak monopoli perdagangan.
Hak memiliki angkatan perang, berperang, mendirikan benteng, dan menjajah.
Hak mengadakan perjanjian dengan raja atau penguasa setempat atas nama pemerintah Belanda.
Hak mencetak dan mengedarkan uang.

Langkah pertama VOC dalam mencapai tujuanya, yaitu merebut Maluku dari kekuasaan Portugis. Pada tahun 1605 dengan mudah VOC dapat merebut benteng Portugis di Ambon. Benteng ini kemudian diberi nama Victoria. Peristiwa ini menjadi tonggak pertama penjajahan Belanda di Indonesia. Setelah berhasil menguasai Ambon, pada tahun 1609 VOC mengangkat Pieter Both sebagai gubernur jenderal pertama. Gubernur yang baru dilantik ini kemudian mengira perjanjian dengan penguasa-penguasa didaerah Maluku, seperti Hitu, Banda, dan Haruku. Setiap perjanjian yang dibuat selalu mencantumkan hak monopoli perdagangan VOC dan pengakuan VOC terhadap kedaulatan penguasa-penguasa setempat. Selanjutnya, VOC mengincar Jayakarta dengan berusaha mendirikan pusat kekuasaan dan pemerintahan diwilayah itu. Ketika VOC dipimpin Jan Pieterszoon Coen, Jayakarta diserang dan dibakarnya. Di atas reruntuhan kota ini didirikan kota baru dengan nama Batavia pada tahun 1619. Mulai saat itu, VOC dapat mengawasi segala gerak-gerik pelayaran di Selat Sunda dan Selat Malaka. VOC juga melakukan konsolidasi dalam upaya menaklukan seluruh wilayah Indonesia.

3.) Kolonialisme Prancis di Indonesia.

Louis Napoleon mengangkat Daendels untuk berkuasa di Indonesia. Tugas Daendels adalah mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman Inggris dan mengatur pemerintahan di Indonesia termasuk membereskan masalah keuangan.

Namun tindakan Daendels terhadap rakyat Indonesia yang tanpa rasa peri kemanusiaan mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan yang sulit untuk dilukiskan. Daendels memerintah dengan tangan besi, sehingga ia dijuluki dengan Tuan Besar Guntur atau Jenderal Mas Galak. Tindakan Daendels ini dimata orang Belanda sendiri ternyata sangat dibenci. Kebencian itu makin bertambah karena tidak memedulikan etika setempat. Akhirnya pada tahun 1811 dipanggil pulang kenegaranya dan dicopot dari jabatanya oleh Louis Napoleon. Sebagai penggantinya ditunjuklah Janssens, sebagai gubernur jenderal di Indonesia. Ternyata Janssens adalah seorang yang lemah dan kurang cakap sehingga Inggris menyerang, ia terpaksa menyerah dan menandatangani perjanjian di Tuntang pada tanggal 17 September 1811, yang kemudian terkenal dengan Kapitulasi Tuntang. Inggris menyerang ke Indonesia dipimpin oleh Lord Minto.

4.) Kolonialisme Inggris di Indonesia.

Sejak ditandatanganinya kapitulasi Tuntang maka Indonesia jatuh ke tangan kekuasaan Inggris. Gubernur Jenderal EIC (East Indian Company) Lord Minto yang berkedudukan di India mengangkat Thomas Stamfors Raffles sebagai penguasa di Indonesia. Raffles memulai tugasnya tanggal 19 Oktober 1811, dibantu oleh Gilles Cransen dan Montinghe. Pemerintahan Raffles di Indonesia menganut system liberalism, yaitu kebebasan dan adanya kepastian hukum.

Penguasaan Inggris yang dipimpin oleh Raffles di Indonesia tidak berlangsung lama, sebab di Eropa terjadi perubahan politik. Negeri Belanda tidak dikuasai oleh Prancis lagi sebab Prancis kalah dalam perang koalisi terakhir (1813-1814) dalam melawan Inggris. Belanda menjadi Negara yang merdeka dan hubungan dengan Inggris pun baik kembali. Tahun 1814 Inggris mengadakan perundingan dengan Belanda di Wina, menghasilkan Convention of London yang isinya : Belanda memperoleh kembali daerah jajahanya yang dulu direbut oleh Inggris. Dengan adanya perjanjian itu pula menandai berakhirnya kekuasaan Inggris di Indonesia. Wakil Inggris untuk menyerahkan Indonesia kepada Belanda adalah John Fendall, sedang pihak Belanda diwakili oleh 3 orang anggota Komisi Jenderal yaitu Van Der Cappelen, Buyskes,dan Ellout. Penyerahan kekuasaan itu berlangsung tanggal 19 Agustus 1816. Berarti secara resmi Indonesia dikuasai kembali oleh Belanda.


1 komentar to "
Sejarah - Kolonialisme dan Imperialisme
"

Poskan Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Diberdayakan oleh Blogger.

My Visitors

About Me

Foto Saya
Sidqi Kobayakawa Schiffer
Hiii !! Nama saya R. Sidqi Tri P. Lahir di Surabaya 9 Agustus 1997. Sekarang tinggal di kota Cirebon dan sekolah di SMAN 1 Cirebon. Dalam blog ini kalian dapat membaca-baca informasi menarik dan dapat membaca-baca cerita yang 100% buatan saya :D
Lihat profil lengkapku

Labels

Translate All Language

Google Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

this widget by www.AllBlogTools.com

Followers

Chat Box

Digital Clock

My Twitter


    Follow me on Twitter

    Visitors

    free counters

    Today Counters

    Web hosting for webmasters